Sejarah Tanaman Lada, Komoditi Mahal dan Paling Dicari Bangsa Eropa

Sejarah Tanaman Lada, Komoditi Mahal dan Paling Dicari Bangsa Eropa

Sejarah tanaman lada di Nusantara ternyata menarik untuk diungkap.

Tak banyak orang yang pernah tahu jika biji kecil lada ini pernah menjadi komoditi mahal yang paling dicari oleh bangsa Eropa di Indonesia sekarang.

Adapun salah satu letak daerah yang banyak menyimpan lada adalah Lampung.

Lampung saat itu merupakan wilayah yang sangat dipertahankan, karena lampung memiliki sumber lada hitam terbaik se-Nusantara.

Banyak berbagai proses monopoli yang terjadi di Lampung saat itu, seperti halnya pemerintah kolonial mengkhendaki para petani lada disana hanya menyetor hasil lada kepadanya melalui kepala marga perkebunan.

Adapun untuk menjaga harga lada agar tetap mahal, pemerintah kolonial saat itu membatasi para petani untuk menanam tanaman jenis lada ini.

Akan tetapi seiring dengan perkembangan waktu, lada pun mengalami kemunduran.

Hal ini antaralain disebabkan oleh penyakit tanaman (hama), dan lada tergantikan oleh tanaman ekspor lainnya. 

Lantas bagaimana sejarah lengkapnya?, untuk mengetahui lebih jauh silahkan simak penjelasan berikut dibawah ini.

Baca Juga: Sejarah Kuliner di Indonesia, Benarkah Terpengaruh Budaya Eropa?

Sejarah Tanaman Lada, Asal-usul Mengapa Biji Lada Mahal

Menurut Laelatul Masroh dalam jurnal sejarah berjudul “Perkebunan dan Perdagangan Lada di Lampung Tahun 1816-1942” mengungkapkan bahwa mengapa tanaman lada bisa mahal saat masa kolonial, ia menjawabnya dengan uraian singkat mengenai sejarah tanaman lada.

Laelatul Masroh (2015: 64) menguraikan bahwa lada bisa menjadi mahal yaitu, karena tanaman lada di Nusantara memiliki kualitas hebat sehingga dapat dijadikan sebagai komoditas dagang yang unggul untuk pasaran dunia.

Karena tanaman itu banyak tumbuh di Nusantara, banyak orang Eropa yang datang ke berbagai daerah seperti Lampung yang dikenal sebagai pemasok Lada terbesar di Nusantara.

Adapun menurut sejarah tanaman lada, menyebut bahwa bagi Timur Tengah dan Eropa lada sangat memiliki harga yang tinggi.

Dari harga lada yang tinggi tersebut, berkembang pula wilayah-wilayah perkebunan lada yang luas di Nusantara, salah satunya di daerah Lampung.

Selepas tanaman lada berkembang subur, banyak makelar rempah dari Eropa yang memonopoli harga lada.

Sehingga harga lada sangat meningkat saat itu mencapai 1000 persen tingginya.

Biasanya para konsumen lada di Eropa, menggunakan lada sebagai bahan multifungsi.

Ada yang menggunakan lada sebagai bumbu masakan, bahan pengawet daging.

Selain itu lada juga dijadikan sebagai obat-obatan, bahan baku minyak wangi, bahkan digunakan sebagai alat tukar layaknya uang.

Dari beragam fungsi lada itulah, terjadi peningkatan permintaan biji lada yang sangat tinggi dipasaran dunia.

Salah satu sejarah tanaman lada mencatat bahwa Lampung pernah menjadi sumber ladang lada terbaik dan sering dikunjungi bangsa Eropa di Nusantara.

Baca Juga: Sejarah Tembakau di Sumatera Timur, Orang Cina Pernah Menjadi Kulinya

Perkebunan Lada yang sangat Subur di Lampung

Pada abad ke 16-17 Lampung berada dalam kekuasaan Kesultanan Banten. Menurut Guillot C dalam bukunya berjudul “Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X –XVII” (2008: 202), menyebut ketika Lampung berada dalam gengaman Banten, wilayah Lampung memiliki tanah yang luas dan subur.

Akan tetapi saat itu Lampung masih memiliki jumlah penduduk yang sedikit, sehingga banyak lahan di Lampung yang nganggur dan jarang dipergunakan.

Dari hal itulah kemudian, dibawah pengawasan Banten masyarakat Lampung mengembangkan sistem perkebunan salah satunya yaitu dengan menanam tanaman lada hitam.

Tanaman lada pun berhasil dikembangkan dan bertumbuh subur disana.

Sehingga masayarakat Lampung pun terkenal sebagai penghasil terbesar lada dipesisir timur Nusantara.

Melihat Lampung sukses menanam lada, salah satu pihak kesultanan Banten ingin mencoba menanam tumbuhan berlian ini diwilayahnya yaitu Banten.

Akan tetapi terkendala lahan, yang notabene sedikit dan kurang subur untuk ditanami lada. Sementara permintaan lada semakin meningkat dari orang Eropa.

Hal ini kemudian memaksa Banten untuk meningkatkan hasil panen lada dengan beragam cara.

Banten akhirnya memperluas wilayah kekuasaannya di Lampung untuk ditanami lada guna memenuhi permintaan pasaran dunia saat itu.

Sementara melihat reaksi demikian masyarakat lampung tidak marah ataupun benci kepada Banten.

Menurut  Anhar Gongonggong dalam bukunya berjudul “Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Lampung” (1993: 21), menyebut masyarakat Lampung menyambut perlakuan Banten saat itu dengan hangat dan tak ada permasalahan.

Baca Juga: Sejarah Transmigrasi, Warisan Kebijakan Kolonial yang Eksis hingga Kini

Kemunduran Tanaman Lada di Nusantara

Harga tanaman lada yang pernah meningkat setinggi 1000 persen, namun diakhir masa VOC harga lada semakin turun dan menandai kemunduran.

Menurut beberapa ahli sejarah yang meneliti lada, hal ini disebabkan oleh proses monopoli yang besar-besaran dilakukan oleh kolonial, sementara dari monopoli tersebut tumbuh pula korupsi-korupsi.

Adapun pendapat lain mengenai kemunduran lada, ternyata diakibatkan oleh serangan hama.

Tanaman lada pun banyak yang tidak tumbuh atau bahkan mati karena serangan hama tersebut.

Dari peristiwa ini permintaan lada dipasaran Eropa semakin menurun dan tergantikan oleh tanaman ekspor lainnya.

Begitulah sepenggal sejarah tanaman lada yang pernah tercatat didalam sejarah agraria Indonesia, semoga bermanfaat. (Erik/R8/HR Online)

Editor: Jujang

The post Sejarah Tanaman Lada, Komoditi Mahal dan Paling Dicari Bangsa Eropa appeared first on Harapan Rakyat Online.



source https://www.harapanrakyat.com/2020/10/sejarah-tanaman-lada-komoditi-mahal-dan-paling-dicari-bangsa-eropa/

Tags :

bm

Jasa Google Ads

Seo Construction

I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.

  • Jasa Google Ads
  • Menuu.id
  • Jl. Veteran, Denpasar, bali
  • iklan.menuu@gmail.com
  • +63 9291 63 2064