Sejarah Samin Surosentiko, Ajaran Hidup Masyarakat Pantura yang Melegenda

Sejarah Samin Surosentiko, Ajaran Hidup Masyarakat Pantura yang Melegenda

Sejarah Samin Surosentiko, apakah para pembaca pernah mendengarnya?

Ternyata sejarah Samin Surosentiko menarik untuk dibahas, terutama yang menonjol adalah ajaran hidup masyarakat Pantura yang melegenda.

Ajaran Samin Surosentiko dianggap menyimpang dan tak mampu mengikuti arus jaman.

Alhasil deretan masyarakat Pantura yang terdiri dari Blora, Kudus, dan Pati menyebut ajaran Samin sebagai sebuah media pembodohan.

Akan tetapi jika para pembaca sekalian menyimak tulisan ini secara lengkap.

Terdapat sisi lain yang lebih menarik dari ajaran Samin Surosentiko dan lebih positif.

Lantas apa saja yang dimaksud sisi lain dari ajaran hidup Samin Surosentiko, ajaran yang melegenda dalam tradisi masyarakat Pantura?

Daripada penasaran, silahkan simak penjelasan lebih lanjut dibawah ini.

Baca Juga: Sejarah S.K Trimurti Pelopor Wartawan Perempuan Indonesia Pertama

Sejarah Samin Surosentiko, Awal Ajaran Hidup Samin di Pantura

Menurut Syahrul Kirom dalam penelitiannya yang berjudul “Etika Samin: Suatu Kajian Filsafat Nusantara” (Jurnal Filsafat Vol. 22, No. 2 Agustus 2012: 151), mengungkapkan bahwa ajaran hidup Saminisme berawal dari sebuah gerakan yang dibawa oleh Raden Kohar yang belakangan mengubah namanya menjadi Samin Surosentiko.

Raden Kohar (Samin Surosentiko), lahir di daerah Randublatung, Blora, Jawa Tengah pada tahun 1859.

Mulai tahun 1890 Samin Surosentiko menyebarkan ajarannya di daerah Klopodhuwur, Blora.

Ajaran Samin akhirnya juga berkembang ke daerah Pantura seperti Pati, Kudus dan beberapa wilayah di Jawa Timur seperti, Madiun, Bojonegoro, Tuban, Ngawi dan Lamongan. 

Selain itu diketahui pula ajaran ini berkembang di Rembang, Grobogan, dan Brebes.

Menurut Hary J Benda dan Lance Castles, orang-orang di desa Tapelan, Blora, Jawa Tengah, sejak tahu 1890 sudah mengikuti Saminisme.

Sementara menurut Encyclopedia van Nederlandch Indie 1919 menyebutkan bahwa orang-orang Samin itu seluruhnya berjumlah 2.300 orang.

Tersebar di daerah Pantura dan Jawa Timur, dan sebagian pemeluk samin yang paling dominan adalah di wilayah Pantura.

Baca Juga: Sejarah Rahmah El Yunusiyyah, Pejuang Wanita dari Minangkabau

Ajaran Samin Surosentiko, Berasal dari Berbagai Kitab Suci Saminisme

Menurut catatan dari Syahrul Kirom (2012: 151), menyebut bahwa ketika Samin Surosentiko berumur 31 tahun, yaitu pada 1890.

Ia mulai menyebarkan ajaran tersebut kepada orang-orang yang ada di desanya.

Sementara menurut pendapat orang Eropa, Samin melakukan banyak Tapa untuk meyakinkan ajarannya itu benar-benar bisa dipercaya oleh masyarakat didesanya.

Adapun setelah melakukan pertapaan akhirnya Samin memperoleh kitab suci sebagai petunjuk, dan baru menyampaikan “wahyu” yang didapatkannya kepada orang banyak.

Sebagaimana faham lain yang oleh pendukungnya dianggap sebagai agama, orang Samin juga memiliki “Kitab Suci”, diantaranya Serat Jamus Kalimasada.

Kitab tersebut terdiri dari beberapa buku, antara lain Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, Serat Punjer Kawitan, dan Serat Lampahing Urip.

Semua kitab tersebut adalah kitab suci yang amat populer dan dimuliakan oleh orang Samin.

Melalui kitab suci itu, pada akhirnya ajaran-ajaran Samin Surosentiko mendapat tanggapan atau diapresiasi sangat baik, dan sangat memikat hati orang banyak dari desa-desa tempat ia bertinggal.

Melalui ajaran kitab-kitab suci nya, penganut aliran kepercayaan Saminisme selalu menanamkan benih-benih kebaikan dan taat terhadap kosmologi alam ini.

Akhirnya banyak warga disekitar Pantura yang pada saat itu mengikuti ajaran Samin Surosentiko.

Baca Juga: Sejarah Perfilman di Indonesia, Dulu Disebut ‘Gambar Idoep’ 

Ajaran Samin Surosentiko, Pernah Dilarang Pemerintah Kolonial

Menurut Widiyanto Paulus dalam artikelnya yang tayang di majalah Prisma tahun 1983 berjudul “Samin Surosentiko dan Konteksnya”, (Prisma 1983: 60), menyebutkan bahwa ajaran Samin Surosentiko pernah dilarang sekaligus dibenci oleh pemerintah kolonial Belanda.

Hal ini terjadi sekitar tahun 1905, ketika itu pengikut Saminisme melakukan perubahan sikap kepada pemerintah kolonial Belanda dengan tindakan pembangkangan (perlawanan).

Perlawanan-perlawanan yang dilakukan pengikut Samin terhadap pemerintah kolonial Belanda, diantaranya adalah tak mau bayar pajak, menolak beri lumbung serta menolak menggembalakan ternaknya bersama ternak yang lain.

Begitu pula dengan Samin Surosentiko, ia menghentikan pembayaran pajak kepada pemerintah kolonial waktu itu.

Berpijak dari peristiwa tersebut, banyak para sarjana barat yang menganggap munculnya gerakan Samin adalah sebagai alat pemberontakan yang jauh sudah disiapkan untuk menggempur pemerintah kolonial.

Melihat kecauan yang disebabkan oleh pengikut Saminisme, akhirnya pemerintah kolonial Belanda menangkap Samin Surosentiko.

Ia dituduh sebagai provokator kerusuhan yang melibatkan massa banyak.

Samin pun ditangkap di Rembang, dan setelah melalui proses pemeriksaan yang sangat panjang, Samin dan delapan orang pengikutnya akhirnya dibuang ke luar Jawa.

Samin Surosentiko meninggal di Padang pada tahun 1914.

Begitulah sejarah Samin Surosentiko, sebagaimana biasa artikel ini layak dibaca untuk menambah wawasan sejarah, dan pengetahuan kearifan lokal yang tumbuh subur di Indonesia. Semoga bermanfaat. (Erik/R8/HR Online)

Editor: Jujang

The post Sejarah Samin Surosentiko, Ajaran Hidup Masyarakat Pantura yang Melegenda appeared first on Harapan Rakyat Online.



source https://www.harapanrakyat.com/2020/10/sejarah-samin-surosentiko-ajaran-hidup-masyarakat-pantura-yang-melegenda/

Tags :

bm

Jasa Google Ads

Seo Construction

I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.

  • Jasa Google Ads
  • Menuu.id
  • Jl. Veteran, Denpasar, bali
  • iklan.menuu@gmail.com
  • +63 9291 63 2064