Sejarah Revolusi Hijau: Mengenal Modernisasi Pertanian Zaman Soeharto

Potret Pak Harto dengan istri (Ibu Tien) ketika memeriksa padi dalam rangka mengontrol program pembangunan pangan “Revolusi Hijau”. Foto: Net/Ist.

Sejarah revolusi hijau. Siapa yang tak kenal Soeharto, Presiden RI kedua yang murah senyum itu ternyata pernah mengenalkan teknologi modern pertanian dengan sebutan “Revolusi Hijau”. Ini merupakan suatu hal yang baru, mengingat pada era Soekarno sulit menemukan istilah teknologi pangan.

Dari peristiwa inilah, rakyat Indonesia memiliki ketahanan pangan yang sangat memadai. Bahkan sanggup mengekspornya ke pasar dunia. Hebat bukan, pak Harto ini? Lantas, bagaimana sejarahnya? berikut ini penjelasannya;

Sejarah Revolusi Hijau

Sejarah Gagasan Revolusi Hijau

Menurut Bayu Budi Nugroho dalam jurnal SOCA berjudul “Konstruksi Sosial Revolusi Hijau di Era Orde Baru” (Vol.12 No.1 Desember 2018: 55), menyebutkan bahwa, sebutan revolusi hijau pertama kali dikenalkan William S Gaud, staf USAID tahun 1968.

Adapun menurut Bayu B. Nugroho, bahwa, William pencetus pertama konsep revolusi hijau bertujuan untuk merayakan atas keberhasilan dalam rekayasa varietas beras dan gandum. Kedua varietas tersebut disinyalir bakal menggelorakan revolusi pemenuhan kebutuhan pangan seluruh umat manusia.

Baca Juga : Sejarah Kuliner di Indonesia, Benarkah Terpengaruh Budaya Eropa?

Terlepas dari Wiliam, Indonesia sendiri memiliki konsep revolusi hijau sebagai konsep pertanian baru yang bersifat modern. Hal ini tak terlepas dari peran teknologi modern dalam kegiatan bercocok tanam. Seperti misalnya penggunaan pupuk kimia dan peptisida.

Akan tetapi, jika para pembaca tahu, sebetulnya penerapan konsep ini sudah sejak era Soekarno melalui program rencananya yang terkenal dengan istilah “Kasimo Plan”. Namun, karena terbatasnya anggaran kala itu menyebabkan rencana tersebut gagal.

Pada perkembangannya, konsep revolusi hijau baru dapat terlaksanakan dengan baik pada era pemerintahan Orde Baru Soeharto. Salah satu keberhasilannya bisa kita lihat dari terbentuknya BIMAS.

Program BIMAS atau Bimbingan Massal adalah suatu lembaga pertanian di bawah Orde Baru yang ditenggarai mahasiswa Fakultas Pertanian UI. Kemudian berubah menjadi Institu Pertanian Bogor (IPB).

Terbentuk karena Inflasi di Indonesia

Baca Juga : Sejarah Perkawinan di Jawa dan Kisah Menarik Pada Masa Kolonial

Sejarah revolusi hijau. Menurut Fitriani dari Universitas Pendidikan Indonesia, menyebutkan bahwa, berdirinya konsep revolusi hijau di Indonesia tak terlepas dari peristiwa inflasi pada tahun 1965.

Selain terjadi inflasi, pada tahun 1965 juga semakin parah dengan adanya krisis pangan yang mana gudang-gudang beras BPUP (Badan Pelaksana Urusan Pangan) dengan sebagian gudang yang terlihat kosong.

Sementara, jika menghitungnya secara akurat, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1965 semakin meningkat. Sehingga, kebutuhan akan beras juga semakin bertambah.

Banyaknya permintaan tidak berimbang dengan jumlah persediaan beras, berakibat fatal terhadap harga beras yang meningkat tajam tahun 1965.

Menurut Ricklefs dalam bukunya berjudul “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008” (2008: 581), mengungkapkan, struktur sosial, politik, dan ekonomi Indonesia hampir runtuh ketika terjadi inflasi tahun 1965. Inflasi sangat tinggi dengan harga barang-barang yang naik sekitar lima ratus persen selama tahun 1965.

Oleh sebab itu, terdapat suatu hal yang menjadi fokus pemerintah kemudian adalah pembangunan ketahanan pangan. Yakni dengan mencetuskan program baru yang modern bernama “Revolusi Hijau”. Hal ini untuk memperbaiki keadaan perekonomian Indonesia, terutama dalam bidang pangan.

Baca Juga : Sejarah Pers di Sumatera, Kisah Perempuan yang Melawan Adat

Praktek Program Revolusi Hijau Pertama Kalinya Dilakukan Petani

Mengacu pada keberhasilan program dari revolusi hijau dalam upaya peningkatkan produksi pangan negara-negara berkembang, baik wilayah Afrika maupun Asia. Kemudian, Indonesia menerapkan pula program tersebut bagi sejumlah daerah yang dianggap tepat untuk melaksanakan program itu.

Menurut Fitriani (2015: 3), Indonesia sendiri dalam melaksankan program dengan tema revolusi hijau ini, petani harus meninggalkan cara bertani tradisional (model lama), dan beralih dengan cara bertani yang lebih modern.

Adapun tujuannya yaitu untuk meningkatkan hasil produksi, sehingga mampu menstabilkan kembali keadaan perekonomian Indonesia yang sedang kacau. Hasilnya pun ternyata tidak mengecewakan, selama program ini berjalan dalam Pelita I.

Dalam Pelita I mencatat program untuk revolusi hijau telah menghasilkan kenaikan produksi padi sebesar enam persen per tahun. Yang mana kenaikan tersebut adalah berkat usaha-usaha pada bidang intensifikasi produksi padi (percepatan panen). Pelaksanaannya menitikberatkan kepada petani daerah pulau Jawa.

Puncak dari kesuksesan revolusi hijau tercatat dalam sejarah pada tahun 1984,  dengan tercapainya swasembada beras hingga dapat mengekspor beras ke luar negeri.

Begitulah sepenggal sejarah revolusi hijau. Semoga bermanfaat. (Erik/R3/HR-Online)

Editor : Eva Latifah

The post Sejarah Revolusi Hijau: Mengenal Modernisasi Pertanian Zaman Soeharto appeared first on Harapan Rakyat Online.



source https://www.harapanrakyat.com/2020/10/sejarah-revolusi-hijau-mengenal-modernisasi-pertanian-zaman-soeharto/

Tags :

bm

Jasa Google Ads

Seo Construction

I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.

  • Jasa Google Ads
  • Menuu.id
  • Jl. Veteran, Denpasar, bali
  • iklan.menuu@gmail.com
  • +63 9291 63 2064