Sejarah Pandemi Kolera Surabaya 1818, Mematikan Seperti Covid-19

Sejarah pandemi kolera surabaya 1818

Sejarah pandemi kolera surabaya pada tahun 1818 mengingatkan bahwa wabah Covid-19 bukanlah satu-satunya wabah yang pernah melanda Indonesia.

Wabah penyakit atau pandemi merupakan sesuatu hal yang menakutkan bagi makhluk hidup terutama manusia. Bagaimana tidak, berbagai kasus di media yang mengabarkan seseorang terkena wabah bikin bulu kuduk bergidik.

Baca Juga: Wabah Tifus di Cirebon 1991, Pabrik Es Dituduh Jadi Sumber Penyakit

Pada tahun 1818 di Surabaya Jawa Timur pernah mengalami hal serupa dengan keadaan Indonesia saat ini. Bahkan penyakit yang mewabah saat itu sangat menakutkan jika dibandingkan dengan Covid-19. Lantas jenis penyakit apa yang pernah mewabah di Surabaya itu?

Sejarah Pandemi Kolera Surabaya Pada Tahun 1818

Menurut Andi Achdian dalam jurnal berjudul “Politik Air Bersih: Kota Kolonial, Wabah, dan Politik Warga Kota”, (Jurnal Sejarah, Vol. 3/1 (2020): 100), kolera merupakan salah satu penyakit yang mewabah di Surabaya.

Penyakit kolera mulai menyebar di Hindia Belanda pada tahun 1818. Penularannya seiring dengan kedatangan kolonial Inggris.

Tentara Inggria yang datang ke Hindia Belanda diduga membawa wabah kolera dari delta sungai Gangga di India. Saat itu, India dianggap sebagai pusat awal perkembangan wabah kolera.

Sementara Koes Irianto, dalam bukunya yang berjudul “Epidemiologi Penyakit Menular dan Tidak Menular Panduan Klinis” (2013:38), menjelaskan pengertian Kolera sebagai penyakit saluran pencernaan yang sifatnya menular.

Penyakit kolera ini disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholerae. Bakteri ini biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui air minum yang telah terkontaminasi kotoran yang mengandung bakteri tersebut.

Baca Juga: Sejarah Palang Merah Indonesia, Lahir Sebulan Setelah Proklamasi

Adapun Andi Achdian menyebut, sejarah pandemi kolera Surabaya terjadi sepanjang abad kesembilan belas. Saat itu kota Surabaya telah mengalami wabah kolera.

Selain kolera, sejarah mencatat Surabaya adalah kota yang pernah mengalami lima kali serangan wabah penyakit dengan tingkat kematian 40,6% pasien Eropa, dan 41% pasien pribumi.

Sampai abad kedua puluh, kolera tumbuh bersama dengan penyakit-penyakit lainnya yang turut berkembang seperti disentri, cacar, dan pes.

Hal ini sering menjadi ‘mimpi buruk’ bagi warga kota, terutama golongan kelas menengah di Surabaya. Adapun menurut Andi, jumlah kematian akibat kolera di Surabaya tercatat mencapai total sebanyak 6000 jiwa yang melayang.

Wabah Kolera di Surabaya Disebabkan Oleh Jumlah Penduduk yang Padat

Yuanita Intan Setyowati, dalam jurnal ilmiah berjudul “Penyakit Kolera dan Pemberantasannya di Surabaya Tahun 1918-1942” (Jurnal Prodi Ilmu Sejarah, Vol. 3, No. 5 Tahun 2018: 573), menyebut sejarah pandemi kolera Surabaya saat itu disebabkan oleh jumlah penduduk yang semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan menurunnya pola kesehatan penduduk karena muncul pemukiman kumuh dan padat yang saling berdesak-desakan.

Keadaan pemukiman kumuh yang tidak dilengkapi dengan adanya sanitasi yang baik membuat penyakit kolera banyak menjangkiti di daerah pemukiman tersebut.

Selain itu pola hidup masyarakat yang kurang menjaga kebersihan serta keterbatasan pengetahuan masyarakat akan penyakit kolera menyebabkan persebaran penyakit tersebut menjadi cepat.

Yuanita Intan Setyowati menuturkan, kebiasaan masyarakat kota saat itu telah mendukung penyebaran wabah kolera di berbagai penjuru Surabaya.

Bagaimana tidak, dalam sejarah pandemi kolera Surabaya disebutkan kebiasaan masyarakat buang air besar di sungai yang jadi penyebab penyakit. Selain itu, warga Surabaya kala itu seringkali tidak melindungi makanan dengan baik menjadikan baksil kolera mudah berkembang biak.

Alhasil kolera yang muncul dari kotoran manusia menyerang penduduk yang tinggal di lingkungan yang kotor dan kekurangan air bersih.

Kondisi Gerografis di Surabaya Menjadi Salah Satu Penyebab Kolera Berkembang Biak

Mengutip catatan yang sama  (Jurnal Prodi Ilmu Sejarah, Vol. 3, No. 5 Tahun 2018: 573), disebutkan kondisi geografi di Surabaya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keberadaan penyakit kolera di Surabaya.

Adapun hal ini disebabkan oleh keadaan struktur tanah yang terbilang labil dan tidak kuat. Sementara keadaan sumber air untuk keperluan masyarakat sehari-hari pun terbilang sangat memprihatinkan.

Kondisi keadaan geografis tersebut menyebabkan menurunnya tingkat kesehatan masyarakat yang tinggal di kampung-kampung. Hal inilah yang menyebabkan banyak penduduk di Surabaya terjangkit virus mematikan kolera.

Cara Kolera Menular di Surabaya

Seperti dikutip dari pernyataan Wisnu Arya dalam bukunya yang berjudul “Dampak Pencemaran Lingkungan Edisi Revisi” (2004: 141), cara penularan kolera di Surabaya terbilang sangat cepat.

Sejarah pandemi kolera Surabaya mencatat penularan virus kolera bisa secara langsung melalui manusia. Tetapi penularannya dapat pula melalui lalat, air, makanan, dan minuman.

Adapun perilaku masyarakat di Surbaya dalam menghindari virus tersebut, antara lain dengan cara menerapkan kampanye pola hidup sehat di setiap lingkungan dari kota hingga ke desa.

Akan tetapi hal ini kurang disadari menjadi bagian yang penting oleh masyarakat di sana, karena ketersediaan air bersih pun sulit untuk diperoleh.

Begitulah sejarah pandemi kolera yang penah terjadi pada tahun 1818 di Surabaya Jawa Timur. Seperti halnya wabah Covid-19 saat ini, kolera pada tahun 1818 jadi wabah menakutkan yang menelan banyak korban. (Erik/R7/HR-Online)

The post Sejarah Pandemi Kolera Surabaya 1818, Mematikan Seperti Covid-19 appeared first on Harapan Rakyat Online.



source https://www.harapanrakyat.com/2020/09/sejarah-pandemi-kolera-surabaya-1818-mematikan-seperti-covid-19/
Langganan Software

© 2020 Jasa Whatsapp Blast | Rajatheme.com - Google Ads Service