Ronggeng Gunung Pangandaran: Ekpresi Tasyakuran Masyarakat

Ronggeng Gunung Pangandaran Ekpresi Tasyakuran Masyarakat

Berita Opini, (HarapanRakyat.com).- Pangandaran termasuk kedalam wilayah yang berada di kawasan Priangan Timur. Daerah Pangandaran ini telah memberikan sumbangan dalam mengembangkan kebudayaan tradisional, yang salah satu diantaranya adalah Kesenian Ronggeng Gunung.

Kesenian Ronggeng Gunung ini telah hidup dan berkembang pada masyarakat di Kabupaten Pangandaran sejak lama. Dan kesenian ini telah menjadi ciri khas kesenian masyarakat.

Kesenian Ronggeng Gunung ini memiliki ciri; yaitu sejumlah penari yang diiringi dengan musik gamelan dan nyanyian atau tembang atau bisa disebut juga dengan kawih.

Gerakan tarian ronggeng gunung ini tidak bisa sembarangan, atau bebas menari, namun memiliki gerakan tersendiri atau gerakan khusus.

Sejarah Ronggeng Gunung

Dilihat dari sisi sejarah, memang belum diketahui muncul pertama kali tahun berapa kesenian ini lahir. Namun Ronggeng Gunung yang berada di daerah Pangandaran ini selalu dikaitan dengan mitos Dewi Samboja dan Raja Anggalarang yang merupakan raja dari kerajaan Pananjung.

Mitos tersebut berkembang di masyarakat Pangandaran melalui cerita lisan dengan berbagai macam versi.

Ronggeng Gunung bisanya terdiri dari enam sampai sepuluh orang. Peralatan musik bagi Ronggeng Gunung yaitu tiga buah ketuk, kendang serta gong.

Ronggeng Gunung biasanya diadakan di halaman rumah ketika acara perkawinan, khitanan atau acara lainnya sebagai sarana hiburan. Ronggeng Gunung juga biasa dilaksanakan di huma atau ladang sebagai upacara adat pertanian.

Seni Ronggeng Gunung yang berkembang di daerah Kabupaten Pangandaran pun memiliki nilai sastra yang terkandung dalam lirik kawihnya yang menceritakan kesedihan Dewi Samboja.

Nilai sastra yang berada dalam kawih tersebut harus tetap dihidupkan dan dilestarikan. Yakni oleh masyarakat Pangandaran sendiri agar tidak punah nilai kesustraannya.

Melestarikan Ronggeng Gunung

Tugas untuk menjaga dan terus menghidupkan warisan budaya ini adalah oleh masyarakat sendiri, khususnya anak muda.

Jangan pernah melupakan budaya yang luhur dan telah diwariskan oleh nenek moyang. Karena jika tidak dijaga, budaya Ronggeng Gunung ini akan tergerus oleh modernisasi dan akan terlupakan oleh perubahan jaman.

Ronggeng Gunung juga memiliki nilai-nilai budaya yang positif karena tidak hanya para penarinya yang berpenampilan sopan.

Namun seni Ronggeng Gunung juga sebagai media kebudayaan untuk hiburan dan sebagai pengiring pada upacara adat pertanian. Biasanya, dilaksanakan di huma atau ladang tempat para petani bercocok tanam. 

Pelaksanaan Ronggeng Gunung yang diselenggarakan sebagai hiburan dalam acara khitanan, pernikahan ataupun yang lainnya, ternyata bukan hanya sebagai hiburan semata.

Tujuan utama diselenggarakannya Ronggeng Gunung adalah dalam rangka syukuran yang mempunyai hajat. Atau sebagai ungkapan syukur karena anaknya telah dikhitan misalnya, atau anaknya sudah melangsungkan pernikahan, dan lain-lain.

Oleh karena itu, yang mempunyai hajat, mengundang kesenian Ronggeng Gunung untuk mengekpresikan rasa terimakasihnya itu. Dan ia berbagi kebahagiaan bersama sanak keluarga dan para tetangganya. 

Pelaksanaan Ronggeng Gunung dalam pengiringan upacara adat pertanian juga merupakan ungkapan ekpresi berterimakasihnya para petani atas apa yang mereka peroleh.  Yaitu hasil pertanian yang melimbah entah itu berupa padi atau sayur-sayuran.

Ekspresi Syukur Masyarakat

Memang orang sunda terkenal pandai bersyukur. Sisi spiritual dari pelaksanaan Ronggeng Gunung bagi para petani adalah bersyukur kepada Tuhan yang maha esa atas berkah dari apa yang mereka tanam.

Pada umumnya adalah padi yang merupakan bahan makanan pokok. Sehingga nilai budaya dari kesenian Ronggeng Gunung ini menjadikan sarana berterimakasih dari manusia atas nikmat dan rezeki kepada Tuhan yang telah memberi nikmat dan rezeki tersebut.

Sisi positif inilah yang menjadikan suatu kesenian atau kebudayaan dinilai baik dan harus dijaga kelestariannya. Jangan sampai tergerus dan tergantikan dengan budaya luar yang memang jauh dari norma adat dan agama. 

Baik atau buruknya suatu budaya atau kesenian, dilihat dari sisi kebermaanfaatannya. Tujuan diselenggarakan dan apakah melanggar norma adat atau norma agama. Norma adat dan agama harus dijadikan pondasi utama dalam kehidupan berkebudayaan.

Selama budaya tersebut tidak melanggar tiga hal dan yang paling utama tidak melanggar syariat agama, maka budaya itu dinilai baik.

Budaya atau kesenian Ronggeng Gunung yang berada di daerah Pangandaran ini merupakan budaya yang baik dan positif yang mesti dilestarikan keberadaannya sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang.

Karena sebelum, selama dan setelah pelaksanaan Rongeng Gunung tidak melanggar syariat agama dan norma adat. Tujuan diselenggarakannya juga sebagai bentuk syukuran masyarakat.

Dan dilihat dari sisi kebermanfataan, kesenian Ronggeng Gunung ini memberikan suasana kebahagian yang merupakan efek dari rasa syukur tersebut.

Mari kita sama-sama melestarikan apa yang telah nenek moyang kita wariskan. Kebudayaan sunda merupakan kebudayaan yang memiliki norma yang luhur, yang patut kita jaga keberadaannya.

Jangan sampai anak-cucu kita kemudian tidak mengenal kebudayaan kita sendiri. Dan mereka lebih percaya diri dengan kebudayaan luar (barat) yang notabene bertentangan dengan syariat agama dan norma adat.

Agama dan budaya memang dua hal yang berbeda. Namun dua hal tersebut bisa berdampingan. Jangan sekali-kali dibenturkan diantara keduanya. Agama harus menjadi pondasi utama dari budaya, artinya budaya berada diatas agama.

Budaya yang baik menurut agama yang tujuannnya baik, tidak ada unsur menyekutukan Tuhan di dalamnya. Memiliki kebermamfaatan dan tentunya tidak melanggar norma yang berlaku di suatu masyarakat.

Dalam hal ini, kesenian Ronggeng Gunung Pangandaran merupakan kesenian yang baik dan bermanfaat, baik dari sisi Agama maupun dari sisi norma adat masyarakat itu sendiri. ***

Penulis: 
Andri Nurjaman, S.Hum,. 
Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Bandung

The post Ronggeng Gunung Pangandaran: Ekpresi Tasyakuran Masyarakat appeared first on Harapan Rakyat Online.



source https://www.harapanrakyat.com/2020/09/seni-ronggeng-gunung-pangandaran-ekpresi-tasyakuran-masyarakat/

Tags :

bm

Jasa Google Ads

Seo Construction

I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.

  • Jasa Google Ads
  • Menuu.id
  • Jl. Veteran, Denpasar, bali
  • iklan.menuu@gmail.com
  • +63 9291 63 2064