Mengenal Mayor R. Hamara Effendi, Pahlawan Pejuang dari Kota Banjar

Mengenal Mayor R. Hamara Effendi, Pahlawan Pejuang dari Kota Banjar

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Mayor. R. Hamara Effendi namanya diabadikan pada sebuah ruas jalan di Kota Banjar, Jawa Barat. Hamara menjadi pelaku sejarah saat Belanda melancarkan Agresi Militer pertama tahun 1947.

Demikian juga patung Letnan (Anumerta). R. Soediro Wirdjo Soehardjo yang berada di pertigaan Jl. Raya Pangandaran-Jl. Tentara Pelajar Kota Banjar menjadi saksi peristiwa yang sama.

Nama Mayjen Didi Kartsasmita yang merupakan Komandan Komandemen I Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal Divisi Siliwangi ini, juga diabadikan pada ruas jalan di Kelurahan Banjar, Kota Banjar, tepatnya sekitar Taman Kota.

Pada divisi III Priangan terdapat resimen XI yang berubah menjadi resimen X yang dikomandani Mayor Sut Gandanegara. Dalam resimen itu terdapat Batalyon IV yang membawahi wilayah Ciamis dan Banjar yang dipimpin oleh Mayor Hamara Effendi. Sementara, Sersan Mayor Soediro merupakan bintara intendan pada Batalyon waktu itu.

Sosok Mayor R. Hamara Effendi

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari keluarganya, R. Hamara merupakan seorang putra dari pasangan H. Kodar Kartakusumah dan Hj. Ene Sukaesih, yang juga putri wedana Garut waktu itu.

Ia dilahirkan di Kota Banjar tanggal 22 Juni 1915, dan pernah menempuh pendidikan di Taman Siswa Yogyakarta. Pria yang akrab disapa Aa oleh masyarakat dan keluarganya itu dikenal sebagai sosok yang baik kepada siapapun, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap sesama.

R. Bachtiar Hamara, salah satu anak kedua dari istri keempat, Nurjannah, menuturkan, sosok ayahnya itu dikenal sopan santun dan ramah kepada siapa saja. Termasuk kepada warga biasa meskipun ia merupakan pimpinan Batalyon IV.

Bahkan, ketika wafat pada 18 Juni 1993, diantarkan ribuan masyarakat Kota Banjar ke komplek pemakaman Gunung Tumpeng di Kelurahan Pataruman, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.

“Aa tuh meski usianya sudah tua mendekati umur 80 tahun, tapi secara fisik masih begitu bugar dan masih nyambung saat komunikasi dengan siapapun,” katanya, saat ditemui Koran HR, di rumahnya, Selasa (18/08/2020).

Saking banyaknya warga yang menghormati Aa, kenang Bachtiar, ketika sakit dan mendapatkan perawatan rumah sakit, banyak yang berkunjung membawa makanan, uang dan sebagainya. Malahan, semua perawat yang ada di rumah sakit dikasih makanan hingga ditraktir makan oleh perintis kemerdekaan dari Banjar ini.

Sering Ditangkap Belanda

Selama hidupnya, ia sering ditangkap dan masuk penjara karena gerakan menentang pemerintah kolonial. Karena banyaknya tekanan dari kolonial hingga membuatnya sakit. Ketika dirawat di RSU Ciamis pun dijaga ketat tentara Belanda.

Tak hanya selama penjajahan Belanda, Hamara Effendi juga begitu gigih memimpin gerakan rakyat melawan penjajah Jepang di wilayah Ciamis dan Banjar, hingga ia ditangkap dan disiksa kampetai.

Paska kemerdekaan, perjuangannya melawan kolonial tak surut. Ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) hingga mengantarkannya menjadi Komandan Batalyon IV resimen X yang markasnya di Banjar.

Sementara itu, kegigihan melawan penjajah tidak hanya di tanah kelahirannya, namun juga pernah bertempur di Tambun Karawang, serta beberapa daerah di Jawa Barat.

“Aa juga sempat menjadi komandan pertempuran melawan Belanda di wilayah Kebumen, Jawa Tengah, dan pada 21 April 1950 pernah ditugaskan Kasad Kolonel. Abdur Haris Nasution ke Bangka Belitung,” imbuhnya.

Perjuangan Melawan Penjajah

Berdasarkan catatan Memed AR tentang riwayat perjuangan Serma. R. Soediro Wirio Soehardjo, pada 1 Oktober 1985, tanggal 10-11 Agustus 1947 Belanda berhasil menduduki Garut. Melihat situasi itu, prajurit Siliwangi yang semula akan melakukan penghadangan, mundur ke daerahnya masing-masing.

Guna menjaga dari kemungkinan Belanda melanjutkan serangan ke arah Timur, Mayor. R. Hamara Effendi menugaskan Serma Soediro agar perlengkapan Batalyon IV dari Banjar dipindahkan ke Pasir Hampo (Kel. Mekarsari, red).

Tak hanya itu, kekuatan perlawanan bersama rakyat juga turut menjadi bekal utama di wilayah Pamarican. Sementara, Mayor. Hamara tetap memimpin pasukan dengan taktik gerilya di Banjar, Kecamatan Lakbok, dan sekitarnya, dengan markasnya berada di Dusun Sapuangin, Desa Sindangangin, Lakbok.

Saat melakukan gerilya di Gunung Sangkur Banjar, Mayor. Hamara Effendi ditangkap Belanda dan ditawan di Markas Belanda yang berada di Jalan Batulawang, tepatnya tidak jauh dari Kantor Bappeda saat ini.

Meski sempat ditahan, namun Hamara berhasil kabur pada pagi harinya melewati kawasan Stasiun KA Banjar. Desingan peluru pun tak henti berbunyi saat prajurit melakukan pengejaran hingga pusat perkotaan Banjar.

Sesampainya di Jembatan Citanduy (Parungsari, red), ia menceburkan diri sehingga dikira sudah tewas dan dibiarkan begitu saja. Kemudian, saat tentara penjajah sudah tak ada, Hamara Effendi kembali memimpin pasukan untuk melancarkan taktik gerilya.

Kontak Tembak

Sebagian pasukan Batalyon IV, dan Badan Perjuangan bertolak dari Banjar menuju Pamarican dengan pengawalan anggota TNI, serta 1 Kompi Tentara Pelajar Siliwangi (TPS) pimpinan Letnan 1. Herman Saren Soediro, putra Serma R Soediro.

Setibanya di Kampung Bojongasih, mereka pun disambut Djamhuri, kepala kampung setempat, hingga akhirnya lokasi ini pun menjadi markas pertahanan.

Suatu hari, Belanda setelah menyerang Tasikmalaya, berlanjut ke Kertahayu, Pamarican, Cimaragas, Cidolog. Dalam penyerangan ini ada bantuan serangan peluru mortir dari Banjar.

Sekitar jembatan Sungai Citalahab juga terjadi kontak tembak sampai beberapa sedadu Belanda tewas. Guna menghindari serangan balasan, pertahanan yang sebelumnya di Bojongasih berpindah ke Panyusupan, Cikupa, Pamarican. Markas baru di rumah Parma ini berlangsung selama 5 bulan.

Pejuang Gugur Diserang Tentara Belanda

Pada 18 Desember 1947, beredar kabar Belanda akan menyerang Cikupa lewat Cibenda dan Sindangpalay. Apalagi di tikungan Cibenda terjadi kontak tembak pada siang harinya sehingga membuat Kalwan dan Sadli yang merupakan anggota TPS gugur.

Dalam perjalanan menuju Lenggor atau Sukamantri, pasukan penjajah juga berhasil menawan seorang juru tulis desa bernama E Tanusasmita.

Ketika masuk Cirengkong, penjajah mendapatkan perlawanan dari pasukan Lili Kusumah. Kontak tembak hari pertama itu membuat warga bernama Patma dan Hadili tewas hingga mayat dan rumahnya pun dibakar. Tak hanya itu, rumah Rukman yang menjadi markas pasukan Lili Kusumah juga dibakar.

Setelah menginap semalam di Cikupa, esok harinya pada 19 Desember 1947, pada paginya Belanda menyerang Panyusupan. Bantuan tembakan mortir yang mengarah ke Pos TPS di hutan jati Geger Bentang membuat pejuang kewalahan.

Rentetan tembakan senapan angin dari dua pihak itu menjadikan suasana mencekam, apalagi kepulan asap mesiu menjadi pemandangan langka di pelosok pedesaan. Sementara itu, Serma. Soediro saat berkemas sisa perbekalan mendapatkan tembakan Belanda setelah kedua kakinya dibacok.

Ajudannya yang bernama Saaban, juga ditembak setelah dadanya dibacok. Lainnya yang gugur dalam peristiwa adalah Abdul Madjid yang merupakan Anggota PHB.

Selain itu, Sumardi sebagai komandan peleton dan Supena anggota TPS, juga gugur dalam melawan penjajah Belanda. (Muhafid/Koran-HR)

The post Mengenal Mayor R. Hamara Effendi, Pahlawan Pejuang dari Kota Banjar appeared first on Harapan Rakyat Online.



source https://www.harapanrakyat.com/2020/08/mengenal-mayor-r-hamara-effendi/
Langganan Software

© 2020 MENUU.ID | Jasa Iklan Google Adwords - Google Ads Service