Sejarah Tembakau di Indonesia, Pernah Jadi Sumber Ekonomi Pribumi

Sejarah Tembakau di Indonesia

Siapa yang tidak kenal dengan tembakau? Masyarakat luas mengenalnya dengan istilah rokok. Namun, bagaimana sebenarnya sejarah tembakau di Indonesia hingga pernah disebut-sebut sebagai sumber perekonomian bagi pribumi di zaman kolonial?

Tembakau pada era kolonial sangat melimpah. Para pribumi mempercayai tembakau, selain sebagai obat penyembuhan penyakit pernafasan, juga berperan sebagai penyangga utama perekonomian.

Orang Belanda mengenal tembakau yang ada di Indonesia. Mereka begitu akrab dengan tembakau yang umumnya disenangi oleh hidung orang-orang Eropa.

Mereka juga menilai tembakau Indonesia memiliki kualitas yang tinggi dan laku di pasaran Eropa. Namun belakangan seiring dengan perkembangan zaman, eksistensi tembakau semakin terancam.

Indonesia sendiri melarang tembakau dengan alasan kesehatan yang diatur dalam UU No. 26 tahun 2009, dan PP No. 109 tahun 2012 serta Peraturan 5 Daerah, yang menyatakan tembakau dikategorikan sebagai zat adiktif yang membahayakan kesehatan.

Sejarah Tembakau di Indonesia dan Awal Mula Kebiasaan Merokok

Tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan dan perdagangan yang penting di Indonesia. Produk yang diperjualbelikan yaitu berupa daun tembakau dan olahannya berbentuk rokok.

Industri tembakau di Indonesia berkembang dengan pesat sejalan dengan peningkatan jumlah perokok. Hal ini terjadi karena berkaitan erat dengan kebiasaan merokok masyarakat Indonesia yang mengadopsi budaya para leluhur.

Baca Juga: Kebiasaan Unik Orang Indonesia yang Mengadopsi Budaya Belanda

Budiman dan Ong Hok Ham dalam bukunya yang berjudul “Rokok Kretek Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara” (1987), mengemukakan bahwa kebiasaan merokok bagi masyarakat Indonesia telah populer sejak abad ke-16.

Dilaporkan pada masa kejayaan Mataram pada abad 16, kebiasaan merokok dilakukan oleh Sultan Agung (Raja Mataram). Selain itu, ada mitologi Mataram Kuno yang mengisahkan Roro Mendut sebagai seorang penjual rokok guna membayar pajak.

Sementara menurut Muchjidin Rachmat dalam jurnal berjudul “Pengembangan Ekonomi Tembakau Nasional: Kebijakan Negara Maju dan Pembelajaran Bagi Indonesia” (AKP, Vol. 8 No. 1 Maret 2010: 68), menjelaskan sejarah tembakau di Indonesia yang dimulai dari kebiasaan merokok para leluhur.

Konon itulah yang membuat orang Indonesia hingga saat ini masih menyukai rokok. Hal ini menyebabkan industri rokok di Indonesia tumbuh dengan pesat, dari semula hanya industri rumah, kini menjadi industri berskala nasional bahkan multinasional.

Tembakau Dipercaya Sebagai Obat Pernafasan

Sebagaimana dikutip dari Ilman Fachrian Fadli dalam jurnal berjudul “Metodologi Analisis Costumer” (Jurnal FE UI, 2010: 28), menyebut tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan layaknya obat herbal.

Fadli menjelaskan hal itu pertama kali ditemukan oleh warga kudus bernama Haji Djamari pada abad ke sembilan belas. Suatu waktu Haji Djamari merasa sakit pada bagian dada, lalu ia mencoba bereksperimen dengan merajang tembakau dan mencampurnya dengan cengkeh bubuk dan dilinting menjadi rokok.

Setelah menghisapnya secara beraturan, tak lama kemudian sakit dadanya pun sembuh, dan dari peristiwa itu masyarakat Kudus pada umumnya percaya bahwa rokok bisa menyembuhkan penyakit pernafasan.

Tembakau Penyangga Utama Ekonomi Pribumi di Era Kolonial

Sejarah tembakau di Indonesia juga menyebut tembakau menjadi penyangga utama ekonomi pribumi pada era kolonial. Karena kualitas tembakau produk Indonesia laku di pasaran global.

Sebagaimana dikutip dari S. Margana, dkk dalam buku berjudul “Kretek Indonesia: Dari Nasionalisme Hingga Warisan Budaya” (2014: 45), orang Eropa bernama George Birnie telah membuktikan bahwa tembakau Indonesia memiliki daya jual yang tinggi di pasaran Eropa.

George Birnie adalah seorang Controleur di Residensi Jember. Ia melakukan observasi mendalam sebelum memutuskan untuk berinvestasi tembakau di Indonesia. Hasil observasinya pun sangat memuaskan.

Birnie kemudian memutuskan untuk menyewa kebun petani di Jember untuk menanam tembakau. Selain itu, ia juga mendirikan sebuah perusahaan tembakau yang mengglobal bernama N.V. LMOD (Landbouw Maatschappij Oud-Djember).

Perkembangan selanjutnya dari sejarah tembakau di Indonesia, Birnie bersama kawannya yang bernama C.S. Matthiesen dan A.D. van Gennep mengembangkan perusahaan ini hingga ke Roterdam Belanda. Bisnisnya pun berkembang menjadi korporasi perusahaan yang paling besar di Resindensi Besuki. Hal ini berdampak besar bagi kehidupan pribumi saat itu di Besuki.

Menurut penuturan S. Margana, setelah para petani mengenal tembakau laku di pasaran dunia, mereka pun berlomba-lomba menanam tembakau dan menjualnya ke pengusaha Belanda.

Seperti halnya di Bondowoso, pengusaha Belanda bernama C.H. Doup menjadi pengepul tembakau lokal dari pribumi dan mengekspornya ke pasaran global.

Begitulah sepenggal sejarah tembakau di Indonesia yang layak dibaca sebagai pengetahuan baru yang jarang dipublikasikan. Semoga bermanfaat. (Erik/R7/HR-Online)

The post Sejarah Tembakau di Indonesia, Pernah Jadi Sumber Ekonomi Pribumi appeared first on Harapan Rakyat Online.



source https://www.harapanrakyat.com/2020/07/sejarah-tembakau-di-indonesia/
Langganan Software

© 2020 MENUU.ID | Jasa Iklan Google Adwords - Google Ads Service