Sampah Luar Angkasa, Asal-usul dan Bahayanya Bagi Bumi

Sampah Luar Angkasa

Sampah luar angkasa semakin meningkat jumlahnya seiring dengan banyaknya ekspedisi di luar bumi. Sampah tersebut dengan sendirinya menjadi ancaman seiring berjalannya waktu.

Penjelajahan luar bumi telah lama dilakukan oleh berbagai Negara dengan tujuannya masing-masing, mulai dari penelitian sampai pengembangan teknologi.

Tidak bisa dipungkiri, penelitian ataupun pengembangan teknologi yang dilakukan di luar angkasa telah banyak memberikan keuntungan untuk manusia.

Ilmu astronomi misalnya, disiplin pengetahuannya yang berfokus terhadap seluk-beluk antariksa mendapat sumbangsih besar penelitian luar bumi itu.

Selain itu, teknologi penerbangan, perkiraan cuaca hingga peta dunia seperti google maps merupakan hasil yang nampak dan dirasakan manfaatnya.

Hanya saja, semua manfaat yang dirasakan sekarang memiliki resiko juga, kemajuan teknologi di bidang ini sebanding dengan sampahyang dihasilkannya.

Saat ini jutaan sampah berterbangan mengorbit bumi sebagai sisa-sisa dari berbagai ekspedisi yang dilakukan jauh diatas bumi itu.

Baca juga: Perjalanan Pesawat Luar Angkasa Galileo

Asal-usul Sampah Luar Angkasa

Lantas dari mana asal mula jutaan sampahyang sekarang beterbangan dan mengelilingi bumi itu.

Alat yang diperlukan oleh para peneliti atau badan yang mengembangkan teknologi di ruang hampa itu tidaklah sederhana.

Untuk terbang ke luar angkasa saja, diperlukan sebuah roket dengan berbagai alat yang dibawanya, termasuk teknologi yang dibutuhkan sesuai misinya, seperti satelit atau sebuah robot.

Ketika peralatan itu sudah tidak digunakan, sudah habis masa pakai, misinya selesai atau sudah rusak benda-benda itu akan dihancurkan di luar angkasa.

Dari sinilah sampah itu berasal. Barang yang sudah tidak terpakai itu terbang mengelilingi bumi dan semakin hari semakin banyak.

Pada tahun 2007, China menguji coba satelitnya dan menghasilkan sekitar 3000 fragmen berukuran 10 centimeter yang akan melayang selama ratusan tahun.

Memang tidak semua sampah luar angkasa dibuang bebas di sana. Pasalnya sudah ada lokasi pembuangan khusus di bumi yang jaraknya jauh dari manusia.

Tempat tersebut bernama Point Nemo, lautan luas yang menampung berbagai sampah antariksa yang terletak 2.250 KM dekat samudera Pasifik.

Setiap benda yang sudah tidak terpakai akan dihancurkan di atas Point Nemo supaya kemudian jatuh dan terkubur di sana.

Hanya saja, tidak semua alat yang dihancurkan itu jatuh ke bumi, terlebih ketika ukurannya kecil dan tidak tertarik oleh gravitasi.

Meskipun berukuran kecil, kenyataannya benda-benda itulah yang saat ini saat ini sudah menjadi limbahdengan jumlah yang sangat banyak.

Mulai dari puing-puing sisa teknologi yang tidak digunakan lagi, hingga bekas sikat gigi astronot terbang mengorbit bumi dan telah menjadi ancaman serius.

Bahaya Sampah Antariksa

Banyak istilah yang terbilang asing untuk sebutan sampah luar angkasa, seperti Space Debris, Space Junk, Space Waste dan banyak lagi.

Beberapa kali hal ini telah merugikan atau mengancam berbagai pihak. Penyebabnya mulai dari benturan dengan satelit yang masih berfungsi sampai jatuh ke tempat yang berpenghuni.

Pada tahun 2017, pusat gabungan operasi antariksa menyebutkan terdapat lebih dari 100.523.000 sampahtertangkap radar.

23.000 di antaranya berukuran bola tenis atau sekitar 10 cm, 500.000 lainnya lebih dari 5 cm dan sisanya sekitar 1 mm hingga 5 centimeter.

Karena sampah-sampah kecil itu, pada tahun 2019 jendela-jendela pada pesawat ulang-alik harus diganti berkali-kali.

Contoh lainnya, di tahun 2019 satelit komunikasi bernama Cosmos 2251 milik Rusia bertabrakan dengan Motorola Iridium 33 dan membuat keduanya hancur.

Baca juga: Fakta Luar Angkasa dan Misteri Terbesarnya

Ancaman Terhadap Bumi

Bahaya sampah luar angkasatidak hanya terjadi di atas bumi, Indonesia pernah beberapa kali merasakan ancaman tersebut.

Kotoran antariksa dengan ukuran lebih besar pernah jatuh di Indonesia dan membahayakan karena dekat dengan daerah yang dihuni manusia.

Pertama pada 26 Maret 1981 di Gorontalo, sebuah tabung bahan bakar USSR jatuh dan berhasil ditemukan oleh LAPAN sebagai motor roket Cosmos-3M.

Kedua tanggal 16 April 1988 terjadi kembali di daerah Lampung, lagi-lagi sebuah tabung bahan bakar milik roket Soyuz A-2 Space Launcher 4 jatuh dari langit.

Keempat, 14 Oktober 2003 sore hari, warga Bengkulu tepatnya Desa Bukit Harapan, Kecamatan Ketahun dikagetkan dengan sebuah ledakan.

Sampai pada dinihari ditemukan sumber ledakan tersebut berasal dari pecahan roket CZ-3A (Chang Cheng/Long March 3) milik Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Persoalan sampah luar angkasa ini telah menjadi sorotan banyak pihak, khususnya yang fokus dalam urusan antariksa dan usaha penanganan tengah dilakukan. (Muhafid/R6/HR-Online)

The post Sampah Luar Angkasa, Asal-usul dan Bahayanya Bagi Bumi appeared first on Harapan Rakyat Online.



source https://www.harapanrakyat.com/2020/07/sampah-luar-angkasa/
Langganan Software

© 2020 MENUU.ID | Jasa Iklan Google Adwords - Google Ads Service